Rabu, 25 November 2020

 

Mimpi, Cinta, dan Takdir

Short Fiction Story

 

 Bagian I : Mimpi Aneh

                Dia menggandeng tanganku, membawaku masuk ke dalam sebuah kafe. Mengajakku duduk di sebuah meja tepat di dekat jendela. Pemandangan jalanan yang tak terlalu ramai, terlihat beberapa orang berjalan rapi di trotoar. Cahaya matahari hangat tersorot pada jalanan tersebut. Pemandangan jalanan yang cukup membuat mata nyaman.

            “Mas mau pesan” dia melambaikan tangannya. Seorang pelayan menghampiri kami “mau pesan apa mbak” sambil memberikan daftar menu. “emm satu vanilla coffee dan satu jus strawberry ya mas”. Pelayan itu mencatat dan berlalu. Aku masih heran dia tak menanyaiku untuk pesan apa. Seolah itu adalah menu favorit yang biasa kami pesan.

            Aku masih bertatap dengan dia, berhadapan di sebuah meja itu. Dia, wanita di depanku berambut agak pendek dibawah bahu. Rambut yang dibiarkan terurai kebawah dengan sedikit beberapa helai rambut menutupi keningnya. Matanya menatapku lekat bola mata yang bening. Garis wajahnya membentuk sebuah senyuman. Tangannya bertopang dagu. Kami saling berhadapan.

            “Kenapa kamu tiba- tiba mesenin aku vanilla coffee?” aku bertanya padanya.

            “Itu kesukaan kamu” dengan santai dia menjawab.

            “Darimana kamu tahu?” aku semakin tak mengerti.

            “Dulu kita sering kesini dan memesan minuman favorit itu”

            Aku semakin bingung dengan jawaban-jawaban yang ia berikan. Dulu? Sering kesini?. Aku hanya mengerutkan alis. “Lihat tangan kiri kamu” dia menengadahkan tangannya. “untuk apa?. “Udah sini kok”, akupun mengulurkan tangan kiriku. Dia memegang tangan kiriku, melihat jari telunjukku. “emmm goresan di telunjuk sebelah kiri, kamu tau artinya apa?”. “Emang kenapa?”. “Goresan di telunjuk ini menandakan bahwa di kehidupan sebelumnya kamu menjalin hubungan dengan seorang kekasih yang sangat mencintaimu, dan di kehidupan sekarang ini dia sedang mencarimu, dia adalah cinta sejatimu” aku semakin tak mengerti dengan ketidakjelasan ini.

pict source: https://unsplash.com/

 

            Dia melanjutkan ceritanya, “di kehidupan sebelumnya kamu sering mengunjungi tempat ini denganku, yaa aku adalah kekasihmu dulu, kamu selalu pesan vanilla coffee dan aku pesan jus strawberry, kamu yang hobi dengerin musik galau, berdiam diri pada tempat yang tenang, tak suka suasana yang terlalu ramai, entah di kehidupan sekarang kamu masih sama atau tidak, kadang takdir bisa merubah segala sesuatu”. Aku terdiam, tak mengerti “Emang sih aku suka menyendiri, suka suasana sepi, lagu galau, tapi ini kayak cerita dongeng aja emang ada kehidupan sebelumnya?lalu ngapain kamu nemuin aku?. Dia tersenyum tipis ”Aku juga nggak tau aku yang sekarang dimana, entah aku masih sama seperti ini atau tidak semua akan mengikuti sesuai takdirnya”.

            Semua berubah gelap. Perlahan-lahan cahaya hangat menerpa wajahku memaksa kelompak mataku untuk terbuka. Cahaya yang berasal dari sela-sela korden jendela menyelinap dan membangunkanku dari tidurku. Aku terbangun dari tidurku, duduk diatas tempat tidur masih termenung memikirkan sebuah mimpi aneh. Mimpi yang benar-benar terjadi seperti nyata.

Kamis, 24 Januari 2019

short fiction story "BANGKU TAMAN"



“Short Fiction Story”
BANGKU TAMAN
            Aku duduk di sebuah bangku taman di bawah terpaan lampu taman kuning keemasan. Bangku taman ini, iyaa kamu masih ingat? Tempat kali pertama kita bertemu. Ketika tak sengaja aku meninggalkan sebuah buku, lalu kau menghampiriku.
“hei, ini buku kamu yaa” tanganmu mengulurkan sebuah buku.
“eh iyaa, dimana ini tadi?”
“aku nemuin di bangku sebelah sana, tadi aku lihat kamu yag duduk situ”
“makasih yaa”
“iya sama-sama” kau pun berlalu dengan senyummu.
            Sejak saat itu aku sering melihatmu di taman ini, hingga duduk di bangku yang sama. Benar, bangku taman yang menjadi favoritku dengan bunga yang bermekaran di sekitarnya. Suatu ketika aku menghampirimu.
“haii, masih ingat nggak?”
Kau pun menoleh “ehhh kamu”
“hemm boleh duduk disini?”
“iyaa silahkan”
 source pict: unsplash.com
Percakapan itu adalah awal perkenalanku denganmu. Hingga kita sering bertemu di tempat yang sama, di bangku yang sama. Aku lebih dekat denganmu bukan hanya sekedar tahu namamu, tapi hobimu, makanan favoritmu, mungkin sampai warna favoritmu. Singkat cerita kini kita kini menjadi sepasang merpati yang menjalin kasih.
Di taman ini kita bergurau, canda tawa terus mengalir. Persisnya di bangku ini kau duduk denganku bercakap, senyummu selalu menghiasi raut wajahmu. Saat tenggelam dalam bincang aku selalu terpana pada pandanganmu. Bola matamu yang indah seolah menggambarkan masa depan yang ingin kuraih. Kupu-kupupun seolah ikut terbang menari diantara bunga-bunga di sekitar kita.
“kamu tahu nggak kupu-kupu itu sebenarnya adalah peri penjaga taman?”
“iyakah” sembari tanganku membelai rambutmu yang sedikit menutup matamu. Aku tak mau sedetik kehilangan pandangan pada sepasang mata indah itu.
Seraya kau melanjutkan “iyaa, jadi kupu-kupu ini peri yang menjaga taman ini semua yang ada di dalamnya, seperti aku yang kini menjadi kupu-kupu dan hatimu adalah tamanya aku akan menjaga hatimu dengan bunga-bunga cinta di dalamnya” ketulusan hatimu seolah tersirat.
            Aku hanya tersenyum entah tersenyum sedih atau perasaan apapun itu aku tahu. Kini semua hanya menjadi kenangan. Kamu pergi. “maaf aku harus pergi, kita mungkin tak bisa melanjutkan semua ini” kalimat itu yang masih teringat dengan jelas di kepalaku.
            Aku masih disini, di taman ini, dan di bangku ini. Duduk dalam sunyi, berteman dengan sepi. Kubiarkan orang-orang mulai memudar dari tempat ini, karena malam yang semakin dingin. Aku sengaja menyendiri, duduk disini di malam hari. Aku pernah duduk dibangku ini saat cerah siang hari, beberapa kupu-kupu melintasiku dan bertanya “dimana peri penjaga hatimu”.
Aku terdiam. Termenung di bangku taman ini.

Senin, 17 Desember 2018

 Antara Cinta dan Luka

Merelakan bukanlah sebuah jalan
Kau hanya mengalihkan perhatian
Hatimu yang mulai tak mampu bertahan
Logikamu yang mulai menguak kenyataan
Seribu bahasa tak mampu menyuarakan perih 
Hanya mampu meneteskan air mata lirih
Luka yang hadir tanpa pamrih
Memeluk dalam buaian sedih
Kau hidup dalam cinta dan luka
Terlalu jauh berjalan dalam duka
Hingga kini kau terdiam tanpa kata
Menanti titik temu dalam rasa hampa


teruntuk hati penggenggam bunga mawar...........

Senin, 27 Agustus 2018

RINDU, RAGU dan CANDU

Perihal Rindu.....
Hai bulan temani aku yang duduk tepat dibawah terpaan sinarmu
Aku akan bercerita, seuntai rindu yang membelenggu
Hai bintang berikan aku gemerlap cahayamu
Seiring aku memulai kisahku

Teruntuk Dia....
Di pesisir hati yang mulai ragu ini angin mulai berbisik
Akankah sebuah penantian akan berakhir bahagia?
Aku hanya bergeming mencoba menyakinkan diri
Tentang pilihan yang telah lama kujalani.... menantimu

Perihal Candu....
Berilah sedikit jeda, untuk sedetik tak memikirkanmu
Berilah sedikit waktu, untuk menghela nafas rindu
Berilah sedikit ruang, untukku tenang di malam haru
Telah lama kulalui kini rasa rindu ini menjadi candu

Entah..... 
Malam ini kugoreskan tinta bertuliskan nama kita
Kupandang rembulan yang mulai meredup bersembunyi di balik awan kelabu
Kulayangkan kertas bertuliskan nama kita
Bersama angin malam yang mulai menusuk tulangku

Bersama daun yang gugur
Ia pun melayang terbawa hembusan angin
Tak tentu arah....
Seperti rasaku saat ini yang sedang merindu






Nb: Goresan tulisan ini diciptakan teruntuk kalian yang dilanda bimbang akan perasaankala kamu RANDU, hatimu mulai RAGU, namun rasa rindu itu telah menjadi CANDU.

(terinspirasi dari rasa kebosanan akan kesendirian)

Rabu, 08 Agustus 2018

Diperbudak Rasa

Aku....
Aku hanyalah sebuah lilin yang rela berkorban untuk menerangimu
Aku hanyalah sebujur kayu yang rela menjadi abu untuk menghangatkamu
Aku hanyalah sebauh payung yang rela menahan dinginnya hujan untuk menaungimu

Namun...
Bagimu, aku hanyalah puing-puing ranting dibalik dedaunan yang gugur
Puing-puing yang akan kau buang bersama desiran debu
Apa sebuah perjuangan harus sepedih ini?

Aku tahu rasa ini memang sia-sia
Namun begitu bodohnya aku yang diperbudak oleh hati ini
Ingin memperjuangkan sebuah kisah dibalik bayang-bayang semu
Demi secerca harapan yang mungkin akan kau beri

Pintu hatimu kau tutup rapat, tak ada cela untukku
Mungkin aku hanya sanggup mengetuk tanpa ada seorang yang akan membuka
Sempat aku ingin beranjak pergi dari kisah ini
Namun ketika disampingmu sebuah senyummu melemahkanku

Menggugurkan kaki yang ingin pergi, bukan pergi dari hidupmu
Melainkan pergi dari perjuangan hati ini
Biarlah rasa ini kupendam dalam-dalam

Karena aku yakin,,,
Ketulusan yang sejati adalah melindungi dibalik bayangan, demi melihatmu bahagia bersamanya
Meskipun itu juga kebohongan terbesar yang pernah kukatakan
Terima kasih untukmu kunikmati sebuah hati yang diperbudak rasa

Senin, 26 Maret 2018

Kuceritakan pada Dini Hari
Hai dini hari, aku ingin  menyampaikan sesuatu...
Lirih saja...

Tentang kekaguman
Aku kagum...
Kagum pada seorang yang telah lama kuamati
bukan seperti orang biasa, kekaguman fisik itu relatif

Aku kagum padanya...
Tentang dia berucap kata,
Tentang penyampaian kalimat bagai sajak bagiku,
Tentang bagaimana dia menjelaskan, mengkomunikasikan sesuatu
Yang terkesan mampu membawa pendengar pada suasana yang ingin ia ciptakan..
Dengan nada-nada yang sederhana, serta alunan intonasi yang menari syahdu terbawa udaara
Mengetuk lembut gendang telinga
Begitupun aku..

Mungkin aku harus belajar banyak darinya...
Namun tak bertanya padanya
Hanya sekedar mengamati lewat raut wajahnya dan garis senyum simpul yang mampu membawaku tenggelam kala ia berbicara di depan mataku..

Mengagumi dalam diam...
Tak perlu balasan...
Adakah senyumannya hari ini untukku...

Hai dini hari..
Dengan liriih aku bertanya ...
Mungkinkah musim semi terjadi saat hujan?
Mustahilkan?
Tapi bagiku hujan beberapa hari ini terasa seperti musim semi yang hangat saat bercanda tawa dengannya.
Just Say you Won't Let Go
Goresan tulisan ini karena dinginmu saat ini wahai dini hari..


Sigit Van 2:30 WIB
Saat secangkir kopi telah membuat kelopak mata ini tak mau menuju alam mimpi