“Short Fiction Story”
BANGKU TAMAN
Aku duduk di sebuah bangku taman di bawah terpaan lampu
taman kuning keemasan. Bangku taman ini, iyaa kamu masih ingat? Tempat kali
pertama kita bertemu. Ketika tak sengaja aku meninggalkan sebuah buku, lalu kau
menghampiriku.
“hei, ini buku kamu yaa”
tanganmu mengulurkan sebuah buku.
“eh iyaa, dimana ini tadi?”
“aku nemuin di bangku
sebelah sana, tadi aku lihat kamu yag duduk situ”
“makasih yaa”
“iya sama-sama” kau pun
berlalu dengan senyummu.
Sejak saat itu aku sering melihatmu di taman ini, hingga
duduk di bangku yang sama. Benar, bangku taman yang menjadi favoritku dengan
bunga yang bermekaran di sekitarnya. Suatu ketika aku menghampirimu.
“haii, masih ingat nggak?”
Kau pun menoleh “ehhh kamu”
“hemm boleh duduk disini?”
“iyaa silahkan”
source pict: unsplash.com
Percakapan
itu adalah awal perkenalanku denganmu. Hingga kita sering bertemu di tempat
yang sama, di bangku yang sama. Aku lebih dekat denganmu bukan hanya sekedar
tahu namamu, tapi hobimu, makanan favoritmu, mungkin sampai warna favoritmu. Singkat
cerita kini kita kini menjadi sepasang merpati yang menjalin kasih.
Di taman
ini kita bergurau, canda tawa terus mengalir. Persisnya di bangku ini kau duduk
denganku bercakap, senyummu selalu menghiasi raut wajahmu. Saat tenggelam dalam
bincang aku selalu terpana pada pandanganmu. Bola matamu yang indah seolah
menggambarkan masa depan yang ingin kuraih. Kupu-kupupun seolah ikut terbang
menari diantara bunga-bunga di sekitar kita.
“kamu tahu nggak kupu-kupu
itu sebenarnya adalah peri penjaga taman?”
“iyakah” sembari tanganku
membelai rambutmu yang sedikit menutup matamu. Aku tak mau sedetik kehilangan
pandangan pada sepasang mata indah itu.
Seraya kau melanjutkan “iyaa,
jadi kupu-kupu ini peri yang menjaga taman ini semua yang ada di dalamnya,
seperti aku yang kini menjadi kupu-kupu dan hatimu adalah tamanya aku akan
menjaga hatimu dengan bunga-bunga cinta di dalamnya” ketulusan hatimu seolah
tersirat.
Aku hanya tersenyum entah tersenyum sedih atau perasaan
apapun itu aku tahu. Kini semua hanya menjadi kenangan. Kamu pergi. “maaf aku
harus pergi, kita mungkin tak bisa melanjutkan semua ini” kalimat itu yang
masih teringat dengan jelas di kepalaku.
Aku masih disini, di taman ini, dan di bangku ini. Duduk dalam
sunyi, berteman dengan sepi. Kubiarkan orang-orang mulai memudar dari tempat
ini, karena malam yang semakin dingin. Aku sengaja menyendiri, duduk disini di
malam hari. Aku pernah duduk dibangku ini saat cerah siang hari, beberapa
kupu-kupu melintasiku dan bertanya “dimana peri penjaga hatimu”.
Aku terdiam. Termenung di
bangku taman ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar