Kamis, 24 Januari 2019

short fiction story "BANGKU TAMAN"



“Short Fiction Story”
BANGKU TAMAN
            Aku duduk di sebuah bangku taman di bawah terpaan lampu taman kuning keemasan. Bangku taman ini, iyaa kamu masih ingat? Tempat kali pertama kita bertemu. Ketika tak sengaja aku meninggalkan sebuah buku, lalu kau menghampiriku.
“hei, ini buku kamu yaa” tanganmu mengulurkan sebuah buku.
“eh iyaa, dimana ini tadi?”
“aku nemuin di bangku sebelah sana, tadi aku lihat kamu yag duduk situ”
“makasih yaa”
“iya sama-sama” kau pun berlalu dengan senyummu.
            Sejak saat itu aku sering melihatmu di taman ini, hingga duduk di bangku yang sama. Benar, bangku taman yang menjadi favoritku dengan bunga yang bermekaran di sekitarnya. Suatu ketika aku menghampirimu.
“haii, masih ingat nggak?”
Kau pun menoleh “ehhh kamu”
“hemm boleh duduk disini?”
“iyaa silahkan”
 source pict: unsplash.com
Percakapan itu adalah awal perkenalanku denganmu. Hingga kita sering bertemu di tempat yang sama, di bangku yang sama. Aku lebih dekat denganmu bukan hanya sekedar tahu namamu, tapi hobimu, makanan favoritmu, mungkin sampai warna favoritmu. Singkat cerita kini kita kini menjadi sepasang merpati yang menjalin kasih.
Di taman ini kita bergurau, canda tawa terus mengalir. Persisnya di bangku ini kau duduk denganku bercakap, senyummu selalu menghiasi raut wajahmu. Saat tenggelam dalam bincang aku selalu terpana pada pandanganmu. Bola matamu yang indah seolah menggambarkan masa depan yang ingin kuraih. Kupu-kupupun seolah ikut terbang menari diantara bunga-bunga di sekitar kita.
“kamu tahu nggak kupu-kupu itu sebenarnya adalah peri penjaga taman?”
“iyakah” sembari tanganku membelai rambutmu yang sedikit menutup matamu. Aku tak mau sedetik kehilangan pandangan pada sepasang mata indah itu.
Seraya kau melanjutkan “iyaa, jadi kupu-kupu ini peri yang menjaga taman ini semua yang ada di dalamnya, seperti aku yang kini menjadi kupu-kupu dan hatimu adalah tamanya aku akan menjaga hatimu dengan bunga-bunga cinta di dalamnya” ketulusan hatimu seolah tersirat.
            Aku hanya tersenyum entah tersenyum sedih atau perasaan apapun itu aku tahu. Kini semua hanya menjadi kenangan. Kamu pergi. “maaf aku harus pergi, kita mungkin tak bisa melanjutkan semua ini” kalimat itu yang masih teringat dengan jelas di kepalaku.
            Aku masih disini, di taman ini, dan di bangku ini. Duduk dalam sunyi, berteman dengan sepi. Kubiarkan orang-orang mulai memudar dari tempat ini, karena malam yang semakin dingin. Aku sengaja menyendiri, duduk disini di malam hari. Aku pernah duduk dibangku ini saat cerah siang hari, beberapa kupu-kupu melintasiku dan bertanya “dimana peri penjaga hatimu”.
Aku terdiam. Termenung di bangku taman ini.